Home / Geografi / mitigasi bencana

Mitigasi Bencana

  • 6 min read
Loading...

Penulis : Febbiyanti Satyabudhi – Universitas Indonesia, Geografi, 2019

Indonesia merupakan negara dengan potensi bencana alam yang tinggi. Hal ini diakibatkan oleh bentuk fisik negaranya yang kepulauan dan terletak diantara pertemuan tiga lempeng dunia yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Selain itu, Indonesia juga terletak pada jalur gunung api aktif (ring of fire).

Kondisi dari karakteristik fisik tersebut menyebabkan Indonesia rawan terjadi bencana gempa bumi, letusan gunung api, longsor, tsunami, banjir, kekeringan, dan angin puting beliung. Bencana di Indonesia tidak hanya terkait pada bencana alam, terdapat juga bencana non-alam dan bencana sosial yang memiliki dampak serius dan merugikan.

Pengertian Mitigasi Bencana

Mitigasi bencana adalah upaya yang dilakukan terus menerus untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan dari bencana sehingga dampak yang timbulkan menjadi sangat kecil dan sedikit. Contoh dari risiko bencana yaitu cidera, kematian, dan trauma psikir. Untuk mengatahui seberapa besar risiko bencana yang timbul dapat dikaji melalui beberapa faktor, diantaranya :

  • Adanya
    Loading...
    bahaya yang menimbulkan potensi kerugian
  • Adanya kerentanan yang menentukan suatu kejadian dapat menimbulkan bencana. Terdapat 4 jenis kerentanan yaitu kerentanan fisik (contoh : fasilitas umum, dan rumah), kerentanan sosial (contoh : kependudukan), kerentanan ekonomi (contoh : nilai lahan, penghasilan), dan kerentanan lingkungan (contoh : penggunaan lahan)
  • Adanya kapasitas yang menunjukan kemampuan terhadap memberi tanggapan saat menghadapi bencana yang akan terjadi.

Terdapat suatu perhitungan yang digunakan untuk menghitung resiko bencana yaitu :

rumus menghitung resiko bencana

Keterangan :

R : resiko

H : bahaya

V : kerentanan

C : kapasitas

Kegiatan mitigasi bencana meliputi hal-hal berikut :

  • Menerbitkan peta wilayah rawan bencana.
  • Memasang rambu-rambu peringatan bahaya dan larangan di wilayah rawan bencana.
  • Rutin mengadakan pelatihan penanggulangan bencana terhadap warga di suatu wilayah yang memiliki tingkat kerawanan yang tinggi.
  • Menyiapkan jalur-jalur evakuasi dan tempat pengungsian apabila terjadi bencana alam.
  • Mengadakan penyuluhan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat di wilayah bencana.
  • Mengembangkan sumber daya manusia untuk satuan pelaksananya.

Jenis Bencana Alam

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jenis-jenis bencana terbagi menjadi tiga yaitu :

Bencana alam

Dipicu oleh fenomena fisik di ruang geosfer, dan berdampak langsung pada kehidupan manusia, karena umumnya menyebabkan kerusakan yang besar. Berikut merupakan contoh dari bancana alam :

a. Gempa bumi : Ditandai dengan guncangan yang diakibatkan oleh tenaga endogen.

  • Faktor bahaya (H) terdiri dari jarak pusat gempa ke wilayah tersebut dan kekuatan gempa.
  • Kerentanan (V) terdiri dari diliat dari kekuatan bangunan, masyarakat rentan, dan tutupan lahan.
  • Kapasitas (C) dilihat dari kemampuan tanggap bencana masyarakat terhadap bencana gempa bumi.

b. Letusan gunung api : Merupakan bencana yang disebabkan oleh aktivitas magma yang terdorong ke permukaan bumi.

  • Faktor bahaya (H) terdiri dari awan panas, hujan abu, lava, dan lahar dingin.
  • Kerentanan (V) terdiri dari masyarakat rentan dan jarak dari kawah letusan.
  • Kapasitas (C) dilihat dari kemampuan tanggap bencana masyarakat untuk evakuasi ke tempat yang aman dari bencana letusan gunung api.

c. Banjir : Ditandai dengan genangan air yang berlebihan dan merendam daratan.

  • Faktor bahaya (H) terdiri dari aliran sungai deras dan genangan banjir.
  • Kerentanan (V) terdiri dari masyarakat rentan, tutupan lahan, ketinggian wilayah, dan ketinggian bangunan.
  • Kapasitas (C) dilihat dari kemampuan tanggap bencana masyarakat untuk evakuasi ke tempat yang lebih tinggi.

Bencana non-alam

Pemicu utamanya bukan dari aktivitas geosfer, tetapi aktivitas dari ruang geosfer mampengaruhi signifikansi cakupan bencana tersebut. Berikut merupakan contoh dari bencana non alam :

Loading...

a. Wabah Penyakit : Tersebarnya penyakit di wilayah yang luas dan menjangkit sejumlah masyarakat. Contohnya : pandemik covid-19

  • Faktor bahaya (H) terdiri dari virus penyakit atau bakteri.
  • Kerentanan (V) terdiri dari sistem kekebalan tubuh, masyarakat rentan dari segi sosial dan ekonomi.
  • Kapasitas (C) dilihat dari kemampuan tanggap mencegah penularan penyakit.

b. Gagal teknologi : Yaitu kesalahan pengoperasian dan pengelolaan dalam penggunaan teknologi atau alat industri.

  • Faktor bahaya (H) terdiri menyebarnya zat radioaktif dan ledakan mesin.
  • Kerentanan (V) terdiri dari tingkat keamanan, jarak dari wilayah terdampak, dan pengelolaan teknologi.
  • Kapasitas (C) dilihat dari kemampuan tanggap menjauhi wilayah terdampak.

Bencana sosila

Bencana yang terjadi akibat konflik antar manusia sebagai makhluk sosial. Berikut merupakan contoh dari bencana sosial :

a. Tawuran : Merupakan kekerasan antar kelompok pada masyarakat urban akibat suatu permasalahan.

b. Terorisme : Serangan terorganisir yang menyebabkan perasaan teror di masyarakat.

Upaya Mitigasi Bencana

Rangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana dari prabencana, saat bencana, dan pascabencana. Berikut merupakan upaya mitigasi bencana :

Edukasi

Melalui materi pelajaran di sekolah hingga mata kuliah pada perguruan tinggi. Melakukan penyuluhan dan seminar di berbagai lapisan masyarakat. Pemberian materi, penyuluhan, dan seminar terkait mitigasi bencana juga dapat meningkatkan sikap untuk siap tanggap bencana, bijak terhadap alam, dan meningkatkan pengetahuan.

Kearifan lokal

Suatu pengetahuan tradisional yang menjadi acuan dalam berperilaku secara turun-temurun. Kearifan lokal dapat digunakan untuk meminimalisir korban dan cara adaptasi masyarakat dalam menghadapi bencana. Contohnya : Di Pulau Simeuleu, Aceh terdapat kebiasaan menanam mangrove.

Pada Suku Baduy menggunakan rumah panggung dari kayu dengan teknik sambung ikat yang stahan terhadap gempa, selain itu sistem perladangan di Suku Baduy selalu mempertimbangkan pemilihan lahan, jenis tanahnya, kandungan humus, dan kemiringan lerengnya untuk mengurangi risiko tanah longsor.

Pada Suku Mentawai, mereka menyakralkan pohon beringin dan jawi-jawi yang berperan menanggulangi banjir dan kekeringan.

Teknologi modern

Suatu sistem teknologi yang berperan untuk mendeteksi suatu bencana. Berikut merupakan contoh teknologi modern yang digunakan untuk mendeteksi suatu bencana :

  • Sistem pendeteksi gempa (seismograf)
  • Sistem deteksi dini banjir (telemetri)
  • Sistem Informasi Geografis untuk pemetaan wilayah rawan atau analisis risiko bencana terkait pengambilan keputusan

Upaya Masyarakat dalam Penanggulangan Bencana

Dapat dilakukan saat prabencana (sebelum terjadi bencana), bencana, dan pasca bencana (setelah terjadi bencana).

Prabencana

  1. Menganalisis risiko bencana dengan bantuan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG).
  2. Melakukan penelitian terkait kebencanaan.
  3. Melakukan pelatihan mengenai kebencanaan melalui seminar atau materi pelajaran di sekolah.

Bencana :

  1. Melakukan evakuasi secara mandiri.
  2. Melakukan respon tanggap darurat sesuai keahlian.

Pasca bencana

Memberikan bantuan logistik, membantu memulihkan layanan publik, dan turut serta dalam membangun kembali sarana dan prasarana.

Contoh Soal Latihan

Apa saja faktor penyebab dari adanya bencana alam?

Fenomena fisik ruang geosfer, dinamika litosfer, dan kerusakan lingkungan akibat kegiatan yang dlakukan manusia.

Apa saja faktor terjadinya erosi?

Faktor terjadinya erosi terdiri dari faktor topografi, jenis tanah, dan juga iklim. Jenis tanah yang mudah tererosi adalah tanah dengan tekstur butir halus, memiliki kekompakan rendah sehingga mudah jenuh oleh air. Topografi yang rentan mengalami erosi adalah topografi yang semakin terjal dan memiliki kemiringan yang cenderung ekstrem. Iklim yang rentan mengalami erosi adalah iklim tropis dengan curah hujan yang tinggi.

Bagaimana urutan siklus manajemen bencana yang benar?

Diawali dari mitigasi, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan.

Baca juga: