Home / B. Indonesia / teks anekdot

Teks Anekdot

  • 8 min read

Penulis: Binti Muroyyanatul `A.

Pengertian Teks Anekdot

Teks anekdot merupakan salah satu teks bergenre sastra berbentuk narasi yang memiliki tujuan sosial untuk menceritakan berbagai reaksi emosional dalam sebuah cerita (Mahsun, 2018). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dijelaskan bahwa anekdot adalah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian sebenarnya.

Hal ini dikuatkan oleh Priyatni (2014: 92) bahwa teks yang memaparkan cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan yang isinya berupa kritik atau sindiran terhadap kebijakan, layanan publik, perilaku penguasa, atau suatu fenomena/kejadian ini disebut dengan teks anekdot. Jadi, dapat disimpulkan bahwa teks anekdot adalah teks yang berisi cerita lucu atau mengesankan yang berisi sindiran atau kritikan terhadap sebuah fenomena atau seseorang.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat diuraikan ciri-ciri teks anekdot berikut.

  1. Teks anekdot berbentuk narasi (cerita) sehingga memiliki tokoh yang mengalami kejadian/peristiwa, latar terjadinya peristiwa, dan alur beragam peristiwa di dalamnya.
  2. Teks anekdot tidak hanya mengunggulkan pada kelucuan cerita, tetapi lebih menonjolkan sindiran atau kritikan yang hendak disampaikan. Oleh karena itu, teks anekdot berbeda dengan humor yang hanya berfokus pada hal lucu untuk menghibur.
  3. Teks anekdot bersumber dari kejadian atau fenomena faktual yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
  4. Teks anekdot biasanya melibatkan atau terinspirasi dari tokoh masyarakat.
teks anekdot

Struktur Teks Anekdot

Priyatni (2014: 93) menjelaskan struktur teks anekdot yang terdiri atas judul, abstrak, orientasi, krisis, reaksi, dan koda.

  • Judul, biasanya singkat, padat, dan langsung merujuk pada hal atau sesuatu yang diceritakan dalam anekdot.
  • Abstrak, berisi rangkuman atau uraian singkat tentang cerita dalam teks anekdot.
  • Orientasi, berisi pengenalan tokoh, latar, dan peristiwa yang diceritakan dalam teks anekdot.
  • Krisis, berisi puncak peristiwa/ kejadian/ konflik. Di bagian krisis ini biasanya hal yang lucu atau mengesankan muncul.
  • Reaksi, berisi cara tokoh menyikapi permasalahan dalam krisis (penyelesaian).
  • Koda, berisi penutup atau penegasan terhadap cerita dalam teks anekdot, dapat pula berupa amanat.

Contoh Teks Anekdot

Jangan Lewat Polisi

Alkisah, seorang wanita tinggal berdua bersama anaknya. Ia sudah tidak bersuami sejak anaknya belum genap satu tahun. Suaminya telah meninggal dunia.

Kini, anaknya telah berusia 6 tahun. Ia selalu bertanya, “Ayah di mana?”, “Ke mana ayah pergi?”, atau “Kapan ayah pulang?”. Ibu pun kebingungan menjelaskan hal yang menimpa ayahnya. Sekali waktu, ibu menjawab, “Ayah pergi ke surga. Ia sedang membangun istana yang megah untuk kita. Nanti, kita juga akan menyusul ke sana dan bertemu lagi dengan ayah. Jadi, kamu harus jadi anak yang baik dan selalu doakan ayahmu di sana ya, Nak.”

Saat bermain, sang anak melihat teman-temannya bersepeda. Ia juga menginginkan sepeda. Ia pun meminta sepeda kepada ibunya, tetapi tidak segera dibelikan. Akhirnya, sang anak menulis surat yang ditujukan kepada ayahnya di surga. Dalam surat tersebut, sang anak meminta uang 1 juta rupiah untuk membeli sepeda. Surat itu dikirimkannya melalui pos.

Saat tukang pos menyortir surat dalam kotak pos, ia menemukan surat sang anak. Karena tertulis Kepada Ayah di Surga, ia menjadi bingung harus dikemanakan surat itu. Akhirnya, ia memutuskan menyerahkannya pada polisi. Polisi membuka dan membaca surat itu. Para polisi yang membacanya terenyuh, kemudian memutuskan untuk mengumpulkan uang agar dapat dikirimksn kepada sang anak. Uang yang terkumpul 900 ribu rupiah. “Ya sudah, tidak apa-apa meskipun kurang 100 ribu. Uang 900 ribu rupiah itu sudah cukup untuk membeli sepeda baru,” kata salah seorang polisi.

Uang itu diantarkan ke rumah sang anak oleh salah seorang polisi. Saat itu, sang anak sedang sendirian di rumah. Polisi itu menanyakan kabar sang anak dan ibunya, kemudian memberikan amplop berisi uang itu. Sang anak senang sekali menerimanya. Setelah polisi pergi, sang anak membuka amplop dan menghitung uangnya. Karena tidak genap 1 juta rupiah, ia menulis surat lagi kepada ayahnya dan mengirimkannya lewat pos.

Tukang pos yang menemukan surat dengan alamat dan tujuan yang sama seperti waktu itu langsung melaporkannya kepada polisi. Polisi pun segera membuka dan membacanya. “Kepada Ayah di surga. Yah, terima kasih sudah memberiku uang untuk beli sepeda. Tapi, lain kali, kalau Ayah ingin memberiku uang, jangan lewat polisi karena akan dipotong 100 ribu. Uang yang aku terima hanya 900 ribu.” Polisi yang membacanya hanya geleng-geleng kepala dan berkata, “Bahkan saat kita membantu orang dengan tulus pun tidak dipercaya.”

Sumber: ESPS Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X hal. 68

Kaidah kebahasaan Teks Anekdot

Berdasarkan paparan karakteristik, struktur, dan contoh teks anekdot, berikut dapat diketahui kaidah kebahasaan yang sering digunakan dalam teks anekdot.

  • Teks anekdot merupakan cerita berlatar lampau sehingga menggunakan konjungsi temporal, seperti ketika, saat, waktu itu, alkisah, dan sebagainya.
  • Teks anekdot menggunakan konjungsi kronologis (urutan waktu) untuk menghubungkan alurnya, yaitu satu peristiwa dengan peristiwa yang lain. Konjungsi yang sering digunakan misalnya setelah itu, lalu, kemudian, sebelumnya, sesudah, dan sebagainya.
  • Teks anekdot menggunakan verba (kata kerja) aktif untuk menunjukkan tindakan atau perilaku tokoh, misalnya mengejar, membuka, menjelaskan, membuat, berjalan, dan sebagainya.
  • Teks anekdot biasanya menggunakan sudut pandang orang ketiga sehingga di dalamnya banyak digunakan pronomina (kata ganti) persona, seperti aku, saya, kami, atau ia, dia, mereka, dan menyebutkan nama tokoh.
teks anekdot 2

Contoh Soal Latihan

Bacalah teks berikut untuk menjawab soal nomor 1 – 4!

Derajat Sopir Angkot

Seorang sopir angkot dan seorang pendakwah meninggal di waktu yang hampir bersamaan. Sebelum menentukan tempat mereka menghuni nanti, Malaikat bertanya kepada keduanya, “Apa pekerjaanmu selama di dunia?” tanya Malaikat kepada sopir.

“Sewaktu hidup, saya berprofesi sebagai sopir angkot.” Lalu, Malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk sopir angkot tersebut beserta peralatan yang terbuat dari emas.

Setelah menempatkan sopir, Malaikat menanyakan hal yang sama terhadap pendakwah, “Apa pekerjaanmu saat masih hidup?”

“Saya adalah seorang pendakwah.” Malaikat pun langsung memberikan kamar yang kecil dan peralatan dari kayu. Pendakwah protes kepada Malaikat alasan ia memberi kamar yang kecil dan berbeda dengan sopir angkot.

“Kenapa saya mendapatkan kamar yang kecil seperti ini sedangkan sopir angkot mendapatkan kamar mewah?” Pendakwah melanjutkan protesnya.

Dengan sedikit tersenyum, Malaikat itu menjawab, “Jadi begini, saat berceramah, semua orang tertidur karena mengantuk mendengar Anda. Lain dengan sopir angkot tadi, ia membuat penumpang dan orang-orang di jalan berdoa karena membawa kendaraan dengan ugal-ugalan.”

Pendakwah itu mengangguk-angguk mengiyakan pernyataan Malaikat.

  1. Kutipan tersebut tergolong dalam jenis teks anekdot karena…
  2. Bagian yang merupakan krisis ditunjukkan oleh paragraf …
  3. Berdasarkan kutipan tersebut, hal yang menarik, konyol, atau lucu ditunjukkan oleh bagian…
  4. Pesan yang ingin disampaikan melalui teks tersebut yaitu…
  5. Perhatikan kalimat acak berikut!

Matematika ala Koruptor

“O, iya. Mereka yang diadili umumnya punya kelemahan, yaitu kurang pintar membagi. Mereka yang tidak tertanggap bukan berarti tidak korupsi, tetapi mungkin mereka lebih pintar membagi.”

“Oh, begitu.”

Dalam sebuah pertemuan ilmuwan tingkat dunia terjadi dialog antara seorang ilmuwan dari berbagai negara.

“Tapi banyak juga tuh koruptor yang ditangkap dan diadili?”

“Itu karena orang di negaraku umumnya pintar matematika. Mereka pintar mengalikan, menambah, untuk kemudian mengurangi dan membagi,” jawab ilmuwan kedua.

“Mengapa kasus korupsi di negara Anda cukup tinggi?” tanya seorang ilmuwan kepada ilmuwan dari salah satu negara.

Agar menjadi cerita yang padu, kalimat acak tersebut dapat disusun dengan urutan…

Kunci Jawaban

  1. Berisi cerita lucu yang mengandung sindiran
  2. Paragraf keenam, yaitu bagian penjelasan malaikat bahwa pendakwah membuat orang-orang tertidur sedangkan sopir angkot membuat orang-orang berdoa karena menyetir dengan ugal-ugalan.
  3. Sopir angkot mendapat kamar yang mewah karena membuat para penumpang berdoa sedangkan pendakwah mendapat kamar biasa karena membuat orang-orang tertidur.
  4. Jangan memperlakukan orang karena melihat penampilannya saja, terutama baju. Tetapi, perlakukan semua orang dengan sama.
  5. 3 – 6 – 5 – 4 – 1 – 2

Pertanyaan Umum

Apa yang dimaksud dengan teks anekdot?

Teks anekdot adalah teks yang berisi cerita lucu atau mengesankan yang berisi sindiran atau kritikan terhadap sebuah fenomena atau seseorang.

Apa perbedaan teks anekdot dengan humor?

Perbedaan anekdot dan humor terletak pada isi dan fungsinya. Teks anekdot berisi cerita lucu atau mengesankan yang bermaksud untuk menyindir atau mengkritik sesuatu hal atau seorang pihak sedangkan humor berisi cerita lucu yang digunakan untuk menghibur.

Bagaimana ciri-ciri teks anekdot?

Teks anekdot berbentuk cerita sehingga memiliki tokoh, latar, dan alur di dalam ceritanya. Teks anekdot mengangkat tema sosial yang bersifat faktual atau juga berkaitan dengan tokoh-tokoh tertentu. Selain itu, teks anekdot berisi cerita lucu yang mengandung kritikan atau sindiran.

Bagaimana struktur teks anekdot? Apakah setiap teks harus memiliki struktur yang lengkap?

Struktur anekdot terdiri atas judul, abstrak, orientasi, krisis, reaksi, dan koda. Sebuah teks anekdot tidak harus memiliki struktur yang lengkap. Kadang ada satu atau beberapa struktur yang tidak ada. Akan tetapi, struktur yang pasti ada biasanya adalah orientasi, krisis, dan reaksi karena tiga struktur tersebut merupakan struktur inti.

Bagaimana cara mengonstruksi makna tersirat teks anekdot?

Untuk dapat mengonstruksi makna tersirat teks anekdot, yang harus dilakukan adalah membaca atau menyimak anekdot dengan cermat, kemudian menentukan makna tersirat di dalamnya. Setelah itu, makna tersirat tersebut dikaitkan dengan fakta dan nilai-nilai dalam kehidupan. Lalu, menentukan unsur-unsur anekdot yang ada dan dikaitkan dengan fakta yang sesuai dengan tema anekdot. Terakhir, menuliskan makna tersirat dalam anekdot yang telah ditemukan.

Daftar Rujukan

  • Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V 0.3.2 Beta (32).
  • Baihaqi, Muhammad. (Ed). 2017. ESPS Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.
  • Mahsun. 2018. Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Teks. Depok: PT Rajagrafindo Persada.
  • Priyatni, Endah Tri. 2014. Desain Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Baca juga