Home / Geografi / tsunami

Tsunami

  • 7 min read
Loading...

Penulis : Siti Nuriyah – Geo Teacher

Tsunami – Pada 11 Maret 2011, telah tercatat Tsunami di Jepang dengan gempa berskala magnitudo 9.0 yang menyebabkan tidak hanya kerusakan pulau Honshu, tetapi juga pulau Pasifik dan Pantai Barat Amerika. Begitu juga di Aceh, Sumatera Barat, Indonesia pada 26 Desember 2004 yang juga menjadi perhatian dunia, karena telah menelan korban sebanyak 227.898 yang lebih banyak dari korban Tsunami Krakatau pada tahun 1883 sebanyak 36.000 jiwa.

Pengertian Tsunami

Kata Tsunami berasal dari bahasa Jepang yaitu Tsu berarti “pelabuhan” dan Nami berarti “gelombang”. Tsunami adalah rentetan dari gelombang di lautan yang dapat melintasi hingga jarak ratusan mil dan mencapai tinggi 30 meter yang mendekati kepulauan. Bahkan dapat lebih cepat dari jet komersil, seperti di Aceh yang dapat melalui 600 km dalam waktu 75 menit, dan dalam satu jam dapat mencapai 480 km, kerusakan besar pun dapat terjadi.

Perbedaan Tsunami dan Gelombang biasa

Loading...
src="https://bacaboy.com/wp-content/uploads/2020/05/word-image-171.png" alt="perbedaan tsunami dengan gelombang biasa" srcset="https://bacaboy.com/wp-content/uploads/2020/05/word-image-171.png 573w, https://bacaboy.com/wp-content/uploads/2020/05/word-image-171-300x146.png 300w" sizes="(max-width: 573px) 100vw, 573px" />

Tinggi gelombang adalah jarak antara puncak dengan lembah. Panjang gelombang adalah jarak horizontal antara dua puncak gelombang yang berurutan. Frekuensi gelombang diukur dengan mencatat waktu ketika dua gelombang yang berurutan melewati titik yang sama.

Berdasarkan struktur, gelombang biasa dan Tsunami adalah sama. Perbedaannya terletak pada magnitudo dan kecepatannya.

Gelombang laut dibentuk oleh tekanan gravitasi, aktivitas bawah laut, dan tekanan atmosfer serta angin (faktor yang sering terjadi).

Ketika angin melewati permukaan air, molekul udara mengambil molekul air sesuai kecepatannya. Gesekan antara air dan udara meregangkan permukaan air, membuat riak dan disebut sebagai gelombang kapiler.

Gelombang kapiler bergerak melingkar. Gerakan melingkar ini berlanjut secara vertikal di bawah air, dan kekuatan gerakan ini memotong air lebih dalam. Sepanjang perjalanannya, banyak molekul yang terkumpul, sehingga meningkatkan ukuran dan daya gerak gelombang.

Pada gelombang normal, angin merupakan sumber energi. Ukuran dan kecepatan gelombang angin bergantung pada kekuatan yang ditiup. Gempa bawah laut merupakan pemicu umum munculnya Tsunami, ada juga karena letusan gunung berapi seperti pada tahun 1883 erupsi Krakatau dan karena tabrakan asteroid yang ditemukan ilmuwan jejaknya, diperkirakan sekitar 3,5 juta tahun yang lalu yang menyebabkan tsunami besar, serta karena longsoran bawah laut.

Proses Terjadinya Tsunami

proses terjadinya tsunami

Tektonik lempeng mengakibatkan rangkaian lempeng besar dan menghasilkan litosfer, membuat daratan dan lantai samudra. Hal itu dipengaruhi oleh lapisan kental astenosfer.

Coba bayangkan kue pie yang dibagi menjadi 6 bagian. Kerak pie diibaratkan sebagai litosfer. Bagian lengket yang berada di bawah diibaratkan sebagai astenosfer. Di bumi lempengan ini bergerak secara konstan (2,5 – 5 cm/tahun).

Pergerakan itu membuat garis sesar (di mana kue pie dipotong), menghasilkan gempa dan vulkanisme, keduanya dapat menyebabkan Tsunami jika berada di laut.

Ketika dua lempeng bertemu pada batas lempeng, lempeng yang lebih berat terselip di bawah lempeng satunya, yang disebut sebagai subduksi.

lempeng bumi

Beberapa kasus subduksi, bagian lantai samudra terhubung dengan lempeng yang lebih ringan yang secara tiba-tiba menekan lempeng yang di bawah, sehingga menimbulkan gempa. Titik fokus gempa adalah titik di bumi di mana patahan pertama terjadi, batuan patah dan pertama kali menghasilkan gelombang seismik. Episenter adalah titik pada lantai samudra (atau bagian permukaan bumi) di atas titik fokus.

Gravitasi menekan energi secara horizontal sepanjang permukaan air. Tekanan ini dipengaruhi oleh aktifitas seismik

Kemampuan Tsunami untuk mempertahankan kecepatannya dipengaruhi langsung oleh kedalaman air. Tsunami bergerak cepat di air yang dalam dan lebih lambat di air yang dangkal. Seperti gelombang normal, energi gelombang Tsunami bergerak di air melawan atasnya.

Oleh karena itu, Tsunami yang bergerak pada kedalaman air pada ratusan mil/jam, tidak terlihat sedikitpun di bawah garis air. Tsunami memiliki ciri tidak lebih dari 1 meter tingginya hingga dapat mendekati pantai. Tetapi, ketika Tsunami mendekati pantai, baru dapat dikenali sebagai Tsunami.

gelombang tsunami
gelombang tsunami

Ketika Tsunami mencapai daratan, akan membentur air yang lebih dangkal. Air yang dangkal dan daratan pantai mengkompres energi melewati air dan membentuk Tsunami.

Topografi lantai samudra dan bentuk pantai memengaruhi penampilan dan perilaku Tsunami. Kecepatan gelombang berkurang jika tinggi gelombang meningkat tajam. Kompresi energi ini menekan air naik ke atas.

Saat Tsunami mendekati daratan akan lambat kecepatannya (sekitar 50 km/jam), tinggi gelombang dapat meningkat selama proses ini, dan panjang gelombang semakin pendek.

Loading...

Ketika Tsunami mendekat, seorang saksi di pantai akan melihat ini saat air jatuh ke pantai. Terkadang air pantai akan terkuras habis saat Tsunami mendekat. Pemandangan yang menarik perhatian ini merupakan pertanda Tsunami.

Ombak vertikal besar (bore), bisa datang dengan arus yang mengaduk. Banjir dengan cepat mengikuti bore. Gelombang lain mengikuti ke mana saja dari 5-90 menit setelah tabrakan pertama. Deretan gelombang Tsunami selanjutnya menabrak pantai.

Tsunami sangat mengejutkan karena menerjang tanpa peringatan. Tsunami dapat berkembang dan memotong garis pantai, menarik apa saja apa yang di laluinya ke laut.

Wilayah yang beresiko parah ketika Tsunami membentur garis pantai berjarak hingga 1,6 km, berdasarkan banjir dan puing-puing yang berserakan, dan kurang dari 15 meter di bawah permukaan laut, berdasarkan tinggi gelombang yang membentur.

Tsunami bahkan dapat mepengaruhi wilayah perlindungan seperti area perlindungan pelabuhan dengan teluk kecil yang sempit, bahkan terusan sungai dapat memberi Tsunami sebuah celah.

Tsunami sangat sulit diprediksi. Gelombang yang berlipat ganda membentur area yang berbeda dari lahan sekitar, menghasilkan tingkat banjir yang berbeda-beda.

Akibat dari Tsunami besar dapat merusak dan menyerang penduduk di sekitar wilayah maupun wisatawan. Selain itu juga dapat merusak alat pembangkit tenaga listrik yang bersirkulasi air ke reaktor nuklir di fasilitas Fukushima-Daiichi, Jepang. Ledakan besar dapat terjadi.

Memprediksi Tsunami

Ilmuwan mempelajari cara baru dalam memprediksi perilaku Tsunami. Teknologi baru dapat digunakan ketika Tsunami telah terjadi yang memonitor dan memprediksi ancaman Tsunami.

Satu contoh pusat secara berkelanjutan memonitor kejadian seismik dan perubahan level pasang, yaitu Pasific Tsunami Warning Center (PTWC). Pusat ini terletak di Pantai Ewa, Hawaii, yang melayani Kepulauan Hawaii dan daerah sekitar Amerika Serikat melalui kerja sama dengan pusat regional lainnya.

Tsunami dideteksi melalui pelampung laut terbuka dan meteran pasang pantai, yang akan melaporkan informasi ke stasiun regional. Stasiun pasang mengukur perubahan menit dalam permukaan laut, dan stasiun seismograf merekam aktifitas gempa. Tsunami terdeteksi jika pusat mendeteksi gempa 7.5 atau lebih.

Jika Tsunami terdeteksi oleh meteran stasiun, peringatan Tsunami dikabarkan ke area yang berpotensi terdampak. Prosedur evakuasi kemudian diimplemenasikan.

Deep-Ocean Assessment and Reporting of Tsunamis (DART) menggunakan perekam tekanan unik yang dipasang di bawah laut yang digunakan untuk mendeteksi perubahan tekanan air. Sistem ini dapat mendeteksi Tsunami sekecil satu centimeter di bawah permukaan laut.

NASA juga terlibat dalam mendeteksi post-Tsunami. Pada 2010, NASA mendemonstrasikan unsur bentuk dasar sistem prediksi Tsunami, menggunakan data real-time dari agen jaringan Global Differential GPS (GDPS). Sistem tersebut sukses memprediksi ukuran Tsunami pada gempa Chili (2010).

Pertanyaan Umum

Tsunami tidak dapat diprediksi, lalu bagaimana cara mengenali tsunami ketika berada di pantai?

Gempa merupakan peringatan Tsunami alamiah ketika berada di pantai. Jadi, ketika terdapat gempa di pantai, kemungkinan dapat terjadi Tsunami.

Mengapa kita masih dapat menyelamatkan diri ketika tsunami terjadi pertama kali?

Karena Tsunami merupakan rangkaian, sehingga gelombang pertama belum sebesar gelombang selanjutnya.

Mengapa Tsunami tidak tampak ketika berada di laut?

Karena di lautan yang dalam, Tsunami bergerak cepat, sehingga hanya terlihat di laut dangkal yang bergerak lambat.

Bagaimana skala intensitas untuk mengukur dampak Tsunami?

Skala terbaru disusun berdasarkan dampak ke manusia, alam dan benda, termasuk navigasi ukuran variabel, dan konstruksi bangunan yang berskala I hingga XII.

Mengapa tidak semua gempa bawah laut menghasilkan Tsunami?

Tsunami tidak terbentuk jika gesekan kerak samudra sangat dalam berada di bawah lantai samudra atau berpindah di jalan yang menyebabkan efek gelombang minimal.

Daftar Pustaka

  • https://cdn.bmkg.go.id/Web/Katalog-Tsunami-Indonesia-pertahun-416-2018.pdf
  • https://geology.com/articles/tsunami-geology.shtml
  • https://science.howstuffworks.com/nature/natural-disasters/Tsunami1.htm
  • https://www.usgs.gov/centers/pcmsc/science/tsunami-generation-2004-m91-sumatra-andaman-earthquake?qt-science_center_objects=0#qt-science_center_objects

Baca juga

Loading...